6 Pengacara Dampingi Mahasiswa Korban Pemukulan

Administrator Kamis, 03 Oktober 2019 21:44 WIB
17merdeka.com
17MERDEKA, LABUHANBATU - Amos Peblius Sihombing, mahasiswa Universitas Labuhanbatu Fakultas Pertanian yang diduga korban penganiayaan para petugas pengamanan gabungan dari Sat Pol PP dan Kepolisian Polres Labuhanbatu pada aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD Labuhanbatu beberapa hari yang lalu didampingi 6 pengacara.

Laporan tersebut dijatuhkan Naski Putra Tanjung (Koordinator Lapangan Aksi unjuk rasa) dan didampingi oleh tim kuasa hukum dengan nomor laporan Polisi : LP/824/IX/2019/RES-LBH tanggal 30 September 2019 mengenai dugaan penganiayaan.

Terlapor disinyalir oknum anggota Polri dan Sat Pol PP.

"Ada 6 pengacara yang akan mendampingi saya untuk membuat laporan ke Polres Labuhanbatu atas luka yang saya dapatkan kemarin ketika saya dan rekan-rekan yang lain unjuk rasa."ujarnya.

Sempat di undang untuk datang ke Polres Labuhanbatu, Amos menolak untuk hadir memenuhi undangan tersebut. "Pihak Polres mengundang saya untuk datang. Tapi tidak tahu undangan tersebut untuk apa. Ya tidak saya hadiri dalam hal apa saya di undang. Intinya, nanti kita lihat bersama bagaimana perkembangan atas laporan itu."katanya. 

 Dugaan penganiayaan yang dilaporkan salah satu Koordinator Lapangan Aksi unjuk rasa gabungan organisasi kemahasiswaan di depan gedung DPRD Labuhanbatu Naski Putra Tanjung mendesak petinggi Polres Labuhanbatu untuk menindak oknum yang diduga melakukan penganiayaan kepada rekannya (Amos) tersebut. 

 "Kami mendesak Petinggi Polres Labuhanbatu untuk memberikan sanksi tegas terhadap oknum yang terbukti salah melakukan penganiayaan secara bersama-sama terhadap rekan kami (Mahasiswa). Sehingga korban (rekan kami) dilarikan ke RSUD Rantauprapat."ucap Naski Putra Tanjung yang merupakan Wakil Bendahara BADKO HMI Sumatera Utara.

Disisi lain, Nurdin Sipahutar SH salah seorang tim kuasa Amos membenarkan sebagai tim kuasa yang mendampingi Mahasiswa tersebut. "Kita dari kuasa hukum sudah mendampingi Amos dalam proses pemeriksaannya sebagai korban penganiayaan pada aksi unjuk rasa kemarin (Senin 30/9/2019). 

Jadi kita tunggu proses kelanjutannya."ungkapnya. Kamis (3/10/2019) via selular.

Nurdin juga berharap, pihak penegak hukum yakni Polres Labuhanbatu profesional dalam menangani kasus ini. "Kami berharap pihak penegak hukum profesional menangani kasus penganiayaan terhadap klien kami. 

Hal ini juga akan kita laporkan ke jenjang yang tinggi melalui surat tertulis. Baik ke Polda Sumut, Devisi kelopak Mabes Polri dan Komisi Kepolisian Nasional. Jika tidak ada tanggapan maupun respon dari Polres Labuhanbatu. Kita tunggu kabar selanjutnya dari Polres Labuhanbatu." Kata Nurdin Sipahutar, SH mewakili tim kuasa hukum lainnya. 

Kapolres Labuhanbatu AKBP Agus Darojat SIK SH MH melalui Kasat Reskrim AKP Jama K Purba SH MH ketika dikonfirmasi terkait laporan tersebut, Pihaknya akan memproses lanjut penyelidikan. "Sat Reskrim akan memproses lanjut atas laporan tersebut. Dan akan melakukan penyelidikan untuk mengetahui siapa pelakunya."tegas Jama K Purba pada dinding media sosial (WhatsApp) saat membalas konfirmasi awak media. Kamis (3/10/2019).

Diceritakan sebelumnya, Aksi unjuk rasa ratusan massa yang terdiri dari beberapa unsur organisasi Kemahasiswaan (GMNI, GMKI, HMI dan unsur organisasi Kemahasiswaan lainnya di depan gedung DPRD Kabupaten Labuhanbatu menuntut janji konsistensi anggota DPRD Labuhanbatu menolak revisi hasil UU KPK, RKUHP, RUU Pertanahan dan beberapa rancangan undang-undang lainnya melalui pernyataan yang ditandatangani bersama.

Ketua DPRD sementara Eko Apriyanto Hasibuan dan Wakil ketua sementara Abdul Karim Hasibuan beserta Kapolres Labuhanbatu AKBP Agus Darojat SIK MH didampingi beberapa perwira Jajaran Polres membujuk massa untuk memberikan perwakilannya agar dapat berdiskusi.

Namun, pihak Mahasiswa menolak ajakan hal tersebut. Dikarenakan, pihak Aksi demonstrasi meminta seluruh anggota DPRD agar turun untuk bersama-sama membahas di depan gedung DPRD Labuhanbatu.

Tak memiliki titik temu hasil mediasi di depan pintu gerbang gedung DPRD Labuhanbatu, Kapolres, Ketua DPRD dan Wakil Ketua DPRD Labuhanbatu, aksi unjuk rasa Mahasiswa dilanjutkan membakar ban dan keranda mayat yang dipersiapkan untuk melakukan aksi itu.

Usai membakar ban dan keranda, massa yang tergabung dari beberapa organisasi Mahasiswa melakukan orasi kembali meminta untuk masuk ke halaman gedung DPRD Labuhanbatu, kemudian aksi dorong mendorong pun terjadi.

Pagar betis pengamanan yang tergabung dari Sat Pol PP dan personel Polres Labuhanbatu tidak tertembus oleh para pengunjuk rasa. Beralih ke pintu gerbang keluar gedung DPRD, merasa kesal tidak ditanggapi, massa mendobrak masuk dengan mendorong dan menendangi pintu gerbang keluar halaman gedung DPRD Labuhanbatu. 


Aksi kian memanas. Naas, dua orang Mahasiswa Universitas Labuhanbatu Amos Peblius Sihombing dan Bana Faqih ditarik paksa masuk ke halaman gedung DPRD Labuhanbatu oleh oknum pengamanan dari Polres Labuhanbatu tepat di depan pintu pagar gedung DPRD Labuhanbatu. Menurut informasi, Amos diduga dikeroyok dan dipukuli oleh beberapa petugas gabungan pengamanan unjuk rasa yang sampai saat ini di isukan oknum Sat Pol PP Pemkab Labuhanbatu.

"Ditarik paksa Almamater ku sampai ke dalam. Ini luka apa ? Ku tanya dulu sama kalian. Bang ini adik mu. Adik mu dipukuli, aku minta viralkan bang."ucap Amos dengan nada keras dihadapan awak media sambil berjalan keluar dari halaman gedung DPRD Labuhanbatu.

Kasat Pol PP Pemkab Labuhanbatu Aminullah Harris ketika dikonfirmasi awak media terkait isu pemukulan terhadap Mahasiswa yang berunjuk rasa di depan gedung DPRD Labuhanbatu mengatakan tidak ingin ditanya soal pemukulan tersebut. "Mengenai pemukulan itu, janganlah ditanya-tanya dulu. Nanti ditanyakan."ucap Harris disela-sela unjuk rasa membubarkan barisan.

Lanjut Aminullah Harris, jika pemukulan terhadap Mahasiswa tersebut memiliki bukti, pihaknya akan segera menindak lanjuti. "Jika ada bukti, kita proses. Jangan katanya-katanya. Kita melakukan pengamanan sesuai standart prosedur.

Kalau sudah garis kuning, anggota tidak akan berada di depan."sambungnya. Ketika dikonfirmasi awak media, Selasa (1/10/2019) via selular.

Namun, dalam video yang beredar di media sosial dengan durasi 0.37 menit, aksi massa yang kian memanas terekam.

Amos Sihombing awalnya menunjuk-nunjuk seorang anggota Sat Pol PP. Kemudian, oknum perwira dari Polres Labuhanbatu menariknya.

Sembari seorang personel pengamanan unjuk rasa dari Polres Labuhanbatu menarik almamaternya disambut oknum Satpol PP.

Hingga tepat dekat Pos jaga gedung DPRD Labuhanbatu, Amos dikelilingi oleh petugas dari Kepolisian dan Sat Pol PP. (17M.10)
T#g:
Komentar
Berita Terkini
Bpd labuhanbatu
Sabtu, 19 Okt 2019 16:59

Kantor LBH Medan Dilempar Bom Molotov

Peristiwa
Pelantikan-bupati-asahan
Jumat, 18 Okt 2019 19:22

Dua Siswa MAN 1 Dikeroyok Puluhan Pelajar

Kriminal & Hukum
Jumat, 18 Okt 2019 19:07

DPO Samsul Tarigan Berakhir Setelah Tertangkap

Kriminal & Hukum
Kamis, 17 Okt 2019 20:43

Poldasu Ringkus 2 Perampok Truk Mengaku Polisi

Kriminal & Hukum
Kamis, 17 Okt 2019 15:36

Kepala Sekolah Mengenali Unsur Kemajuan Sekolah

Pemerintahan
Rabu, 16 Okt 2019 18:36

Tiga Tersangka Curanmor Spesialis Rusak Gembok Diringkus

Kriminal & Hukum
Rabu, 16 Okt 2019 18:09

Ajudan Walikota Medan Diboyong KPK

Kriminal & Hukum
Hari ini: 127.721
Kemarin: 396.744
Bulan Ini: 146.702
Total pengunjung: 1.417.305.399.290
Hits hari ini: 217.780
Total Hits: 8.533.938.766.066
Pengunjung Online: 164