Gelapkan Uang Rp 550 Juta Modus Bangun Rumah Pengungsi Sinabung

Mantan Direktur PT Garuda Teknik Development Dituntut 2 Tahun Penjara

Administrator Kamis, 20 Februari 2020 20:10 WIB
17merdeka.com
HM Hasan (59) mantan Direktur PT Garuda Teknik Development (GTD) saat menjalani sidang tuntutan perkara penggelapan uang Rp 550 juta dengan modus pembangunan rumah pengungsi Sinabung.

17MERDEKA, MEDAN - Mantan Direktur PT Garuda Teknik Development (GTD), HM Hasan (59) dituntut jaksa penuntut umum (JPU) selama 2 tahun penjara. Dia dinyatakan bersalah, melakukan penipuan dengan modus pembangunan rumah pengungsi Sinabung, hingga korban merugi Rp 550 juta. 

Dalam nota tuntutan yang dibacakan JPU Sri Delyanti, terdakwa terbukti melanggar Pasal 378 KUHP tentang penggelapan. 

"Meminta kepada majelis hakim yang menyidangkan, menuntut terdakwa Hasan dengan pidana selama 2 tahun penjara," ucapnya, di Ruang Cakra 6 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Kamis (20/2/2020) sore.

Usai pembacaan tuntutan, majelis hakim yang diketuai Erintuah Damanik menunda sidang, dengan agenda pembelaan (pledoi) terdakwa. 

Mengutip surat dakwaan, pada 12 Juli 2017, terdakwa datang ke rumah saksi korban Taufik dan menceritakan ada proyek pembangunan rumah pengungsi korban letusan Gunung Sinabung sebanyak 1000 unit lokasi di Desa Siosar Kecamatan Merek, Kabupaten Karo.

Terdakwa meminjam uang saksi korban sebesar Rp 550 juta, dengan cara merayu untuk pembangunan rumah pengungsi Sinabung. Terdakwa berjanji akan mengembalikan uang saksi korban dalam waktu 20 hari. 

Lebih lanjut, akhirnya korban percaya dan memberikan uang sebagai modal pinjaman kepada terdakwa sebesar Rp 550 juta. Setelah saksi korban Taufik mentransfer seluruh uang yang  tersebut kepada terdakwa, lalu terdakwa memberi harapan kepada saksi korban. 

Lalu pada Agustus 2017, terdakwa menemui saksi korban Taufik di rumahnya yang mengatakan proyek belum selesai. Terdakwa kemudian memberikan cek tunai senilai Rp 12 juta kepada saksi korban Taufik. 

Selanjutnya, pada Oktober 2017, saksi korban Taufik kembali menagih pengembalian uang pinjaman sebesar Rp 550 juta kepada terdakwa dan pada saat itu lah terdakwa mengakui, bahwa terdakwa tidak pernah mendapatkan proyek pembangunan perumahan pengungsi di Siosar. 

Kemudian, saksi korban Taufik meminta terdakwa membuat pernyataan secara tertulis, yang disanggupi terdakwa. Lalu dibuatlah Surat Pernyataan Pinjaman, tanggal 14 April 2018 yang ditandatangani para pihak dan saksi, dengan besaran Rp 550 juta.

Namun, terdakwa tidak juga mengembalikan uang pinjam tersebut maka, pihak korban Taufik merasa keberatan dan mengalami kerugian sebesar Rp 550 juta maka saksi Taufik melaporkannya ke Pihak kepolisian. (17M.05) 


T#g:
Komentar
Berita Terkini
Minggu, 29 Mar 2020 00:00

Gelagapan Ada Polisi, 2 Penyabu Kena Borgol

Kriminal & Hukum
Sabtu, 28 Mar 2020 20:59

712 Orang Warga Asahan ODP Corona

Pemerintahan
Sabtu, 28 Mar 2020 20:11

Pemkab Asahan Minta Warga Tidak Panic Buying

Pemerintahan
Jumat, 27 Mar 2020 23:59

Kabupaten Asahan Tetapkan Status Siaga Darurat

Pemerintahan
Jumat, 27 Mar 2020 18:20

Sholat Jum'at Di Masjid Agung Kisaran Ramai

Pemerintahan
Jumat, 27 Mar 2020 11:59

435 Orang Warga Asahan ODP Virus Corona.

Pemerintahan
Kamis, 26 Mar 2020 23:57

Pemkab Asahan Minta Masyarakat Tunda Urus Adminduk

Pemerintahan
Hari ini: 73.824
Kemarin: 636.336
Bulan Ini: 200.101
Total pengunjung: 2.090.384.439.699
Hits hari ini: 148.729
Total Hits: 13.195.324.236.362
Pengunjung Online: 177