• Home
  • Kriminal & Hukum
  • Keluarga Korban Almarhumah Fitri Yanti Menangis Melihat Pra Rekonstruksi Pembunuhan Feri Pasaribu

Keluarga Korban Almarhumah Fitri Yanti Menangis Melihat Pra Rekonstruksi Pembunuhan Feri Pasaribu

Administrator Minggu, 27 September 2020 22:13 WIB
17merdeka.com


17MERDEKA, MEDAN - Keluarga korban menangis, menjerit ketika mendengar pengakuan tersangka kepada penyidik Polrestabes Medan, Hal yang membuat keluarga menangis ketika Kapolrestabes Medan Kombes Pol Riko Sunarko menyampaikan motif pembunuhan dikarenakan sakit hati, korban meminta dibelikan rumah dan selalu dimaki-maki ketika dalam pelaksanaan konfrensi pers di Polrestabes Medan, Kamis (24/09/2020) lalu. 

"Menanggapi ucapan tersangka kepada penyidik ini membuat kami sekeluarga menangis, karena semua yang disampaikan tersangka kepada penyidik tersebut sangat bertolak belakang," kata Yeny ketika ditemui wartawan di Jalan Bromo, Gang Bahagia. Kelurahan Ts II, Kecamatan Medan Area, Minggu (27/09/2020).

Katanya, pihak keluarga sangat mengapresiasi kinerja Unit Jahtanras Polrestabes Medan dan Polsek Percut Seituan dan Polsek Tapung Riau. T

"Terima kasih kepada Bapak Kapolrestabes Medan Kombes Pol Riko Sunarko, kami seluruh keluarga Alm Fitri Yanti tidak dapat membalas kebaikan Bapak dan Personil Polrestabes Medan yang tidak pernah merasa lelah untuk mengungkap kasus ini. Hanya Allah yang akan membalas keberhasilan pengungkapan kasus pembunuhan ini," ujar Yeny S.ag kakak kandung korban. 

Ketika ditanya wartawan tentang pra rekontruksi ini, Eva menjawab sedikit agak kecewa dengan pihak penyidik kerna tidak ada memberitahukan kepada keluarga padahal mau melihat bagaimana aksi tersangka ketika menghabisi nyawa korban. 

"Kami tau pasti dengan adek kami ini, selama perkawinannya dgn tersangka ini tidak pernah merasa bahagia, Almarhumah dijadikan pemuas nafsu, dijadikan ATM, mulai dari ngontrak rumah, makan sehari-hari nya, bahkan pakaian tersangka korban yang memberikannya," bebernya. 

Pihak keluarga kecewa berat dengan pengakuan tersangka kepada penyidik yang mengatakan motif pembunuhan itu karena tersangka sakit hati korban mendesak minta dibelikan rumah dan memaki-makinya. 

"Ini sangat tidak masuk akal apa yang disampaikan nya ini, kerna kami tau benar, mulai dari makan sehari-harinya saja korban yang menanggung, Adek kami dijadikan sapi prah oleh tersangka, apa bila tidak dipenuhi permintaan nya oleh korban. Tersangka langsung memukul dan memaki-maki korban dengan kata-kata kotor. Adek kami ini tidak pernah melawan tersangka walaupun berulang kali dipukul dam dianiaya. bahkan uang korban hasil jenis payahnya senilai puluhan juta yang akan digunakan untuk membeli sebuah rumah itupun diambil oleh tersangka, dari mana jalannya adek kami meminta berikan rumah kepada tersangka. Sedangkan hidupnya saja bergantung kepada korban," bebernya lagi.  

Yeni S.ag sedikit menceritakan tentang pernikahan korban dengan tersangka, terus terang pernikahan mereka penuh kebohongan, mengaku duda sambil menunjukan surat cerainya dengan keluarga. 

"Yang menjadi haru pada waktu itu dia mengatakan kalau semua pakaiannya dibuang sama istri tuanya, mendengar hal itu oleh adek saya diberikan tas untuk mengambil pakaiannya, bahkan dibelikan baju, sepatu untuk melakukan akad nikah," jelasnya. 

Kebohongan tersebut tidak lama terbongkar, kalau seluruh surat yang diberikannya kepada keluarga korban semuanya palsu. 3 bulan lebih kurang korban diserang habis-habisan, dimaki-maki nyaris terjadi penganiayaan oleh istri tua, anak-anak dan menantu tersangka ikut menghujat korban di rumah orang tuanya di Jalan Bromo, Gang Bahagia. Kel Ts II, Medan Area.

Tidak sampai disitu penderitaan korban berkelanjutan, korban diserang oleh istri tuanya dengan anak-anaknya. Hingga dianiaya oleh anak kandung tersangka bernama Mutia ketika berjualan di Pasar Halat Medan dan sudah dilaporkan di Polsek Medan Kota. 

Kemudian Korban diajak pindah ke Jambi oleh tersangka juga dianiaya habis-habisan oleh tersangka, di Jambi ini juga ada LP nya di Polres Jambi. Namun sangat disayangkan kedua LP polisi kasus penganiayaan tersebut tidak satupun yang diproses polisi.

"Kami keluarga meminta kepada pihak kepolisian dan jaksa nanti agar memberikan hukuman mati kepada pembunuh  sadis ini, hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa," ujarnya sambil menangis. 

Begitu juga anak sulung korban, Rani meminta agar tersangka dihukum seadil-adilnya. 

"Sampai kapanpun kami akan kejar  si pembunuh orang tua kami ini, hutang nyawa harus dibayar nyawa, apa yang sudah diberikan orang tua saya kepada tersangka ini cukup menyayat hati kami adek beradik, mulai dari makan, uang yang dipakainya dan lain-lainnya, kami tidak rela sama sekali dimakan oleh pembunuh mama kami," katanya dengan isakan tangisan. (17M.05) 

T#g:
Komentar
Berita Terkini
Selasa, 27 Okt 2020 18:39

Polsek Patumbak Ringkus Tersangka Penggelapan Betor

Kriminal & Hukum
Senin, 26 Okt 2020 19:20

Libur Panjang, Poldasu Imbau Tetap Patuhi Prokes

Sekitar Kita
Senin, 26 Okt 2020 19:09

Polsek Medan Barat Bekuk Bajing Loncat

Kriminal & Hukum
Senin, 26 Okt 2020 19:05

Polsek Medan Kota Ringkus Pengedar Sabu

Kriminal & Hukum
Minggu, 25 Okt 2020 21:43

Mayat Terduga Korban Begal Disebut Ditabrak Lari

Peristiwa
Minggu, 25 Okt 2020 21:28

Warung Bakso Polonia Terbakar

Peristiwa
Sabtu, 24 Okt 2020 23:24

Pasutri Penganiaya Keponakan Diringkus Polisi

Kriminal & Hukum
Sabtu, 24 Okt 2020 23:19

Driver Ojol Tewas Dirampok di Tembung

Kriminal & Hukum
Hari ini: 207.378
Kemarin: 434.904
Bulan Ini: 223.557
Total pengunjung: 2.918.306.179.640
Hits hari ini: 307.750
Total Hits: 20.821.386.126.198
Pengunjung Online: 175